Bandung,
perempatan Dipati Ukur, tak tau hari kapan, tapi sepertinya bukan terang hari, tapi malam hari. Hanya sekitar 1 menit menunggu lampu merah berubah hijau, namun dampaknya berlangsung hingga saat ini.
Dalam perjalanan pulang ke kosan habis selesai latihan musik di sebuah gereja di Bandung. Dari atas angkot yang kutumpangi, di perempatan sambil menunggu lampu jalan menunjukkan hijau, mataku terpaku ke seorang anak jalanan mungkin masih berumur 9 atau 10 tahun, yang lagi asik bermain musik dengan temannya sambil berteduh dari gerimis di bawah atap sebuah mini market, mungkin Circle K namanya. Dari jarak sekitar 20 meter dari tempat dudukku ini, meski di luar masih diliputi suara gerimis saat itu, aku masih bisa mendengar lagu apa yang mereka mainkan.
Eh, tapi tunggu dulu, bukankah alat musik yang dimainkan anak kecil itu sama seperti yang ada dalam wadah petak mirip peti yang sedang aku usung-usung sekarang ini ? Iya ! Itu Biola kan ? Pertanyaan itu terjadi tak lama, hanya sepersejuta detik, dan sangat sesuai fakta yang mengatakan bahwa ada jutaan operasi logika terjadi di otak dalam setiap detiknya, maka di detik berikutnya aku pun dibawa secara liar ke penilaian sombongku akan nilai klasik dari Biola,The Queen of Music itu.
Aku yang selama ini membawa2 kemanapun aku pergi suatu idealisme mengenai nilai dari sebuah biola yang harusnya dijunjung tinggi, hanya buat kalangan atas, hingga seharusnya ga dimainkan di sembarang tempat, dan gak dimainkan oleh orang2 jalanan, hanya dalam waktu kurang dari semenit, menyadari bahwa betapa congkaknya aku selama ini dengan pandangan salah yang aku bawa-bawa kemanapun mengenai biola.
Dalam waktu kurang semenit itu pula aku meruntuhkan idealisme salah ini, dan membangun kembali dasar pemikiran yang lebih humble mengenai biola serta alat musik klasik lainnya. Aku membangun dalam ruang pikirku bahwa aku dan anak kecil itu sama aja. Kami sama-sama violis. Kami sama-sama senang dan mencintai Ratu Musik itu, biola. Kami sama dengan pebiola yang mungkin saat ini sedang ngamen di jalanan Groningen, atau di jalanan New York sana, dan juga ga jauh beda dengan seorang peniup trombon yang kali ini lagi mangkal di bawah Menara Eiffel, atau di samping Manequin Piss, atau di samping Patung Romeo n Juliet untuk ngedapetin dana buat backpack travelling, seperti yang dilakukan Arai dan Ikal dalam cerita EDENSOR (Tetralogi Laskar Pelangi), yang meski mengharapkan sedikit duit tapi tetap tidak mengorbankan apresiasinya terhadap seni, tidak kehilangan kecintaan, penghayatan dan nikmat dari seni yang mereka usung.
Sayangnya, lampu jalan menunjukkan warna hijau, angkot kami melaju lagi, tapi aku sangat bersyukur atas perenungan singkat ini, yang hanya kurang semenit telah mengubah cara pandangku tentang nilai aristokratik yang terkandung dalam setiap alat musik yang termasuk pada anggota orkestrasi klasik. Selain itu satu yang paling aku sadari dari perenungan tak sampai semenit itu adalah :
Mengamen ya tetap mengamen, ga peduli dimanapun itu. Mengamen di sudut kota Paris, Itali, Venezia, Medan, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, di Perempatan Dipati Ukur, Harrison Street, Amplas, Pinang Baris, Padang Bulan, yah sama saja…
What A Colorful World I Think 